Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi

Nama Lembaga : RUMAH SINGGAH BINA ANAK PERTIWI
Pimpinan : Abdus Saleh Maller
Alamat : Jl. Bacang No. 46 Jati Padang Pasar Minggu Jakarta
Selatan Telp. (021) 7818711- Hp. 0817711146
Web: www.binaanakpertiwi.com
Email:admin@binaanakpertiwi.com
Tahun Berdiri : 8 N0vember 1998
Akte Notaris : Dr. H. Amrul Partomuan Pohan, SH, LLM
Ijin Operasional : 10.31.74.04.1002-029
NPWP : 01.911.531.0-017.000
No. Rek. Bank : (0005318188) BNI 46 (a.n YAYASAN BINA ANAK PERTIWI)

Jenis Pelayanan :
• Pendidikan Kesetaraan Kejar Paket A, B, & C
• Pendidikan Layanan Khusus Untuk Anak Jalanan
• Pendidikan Layanan Khusus Untuk Anak Daerah Terpencil
• Program Beasiswa dengan Sistem Orang Tua Asuh
• Pmbinaan Keagamaan dan Mental Spiritual
• Pendidikan Keterampilan (Life Skill)
• Pertanian (Budi Daya Belimbing Manis)
• Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Bengkel Motor
• Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat
• Konsultansi dan Pendampingan Anak Jalanan

I. SEJARAH SINGKAT

IMG01531-20121117-1439

Tiga belas tahun yang lalu, tepatnya awal mula terjadinya krisis politik serta kebangkrutan ekonomi, ada sekelompok aktivis mahasiswa yang tergabung dalam sebuah kelompok kajian sosial akademis yang cukup intens bernama Forum Studi Dialektika (FOSTUDIA), merasa gelisah dan sekaligus prihatin dengan nasib bangsanya sendiri, terutama fenomena meningkatnya jumlah anak-anak putus sekolah dan anak jalanan/terlantar. Mereka sudah bosan dengan berbagai aksi demonstrasi yang selalu mengusung jargon “reformasi’ yang dinilainya kurang lagi menyuarakan kepentingan lapisan masyarakat bawah.

Forum tersebut beranggotakan mahasiswa-mahasiswa lintas perguruan tinggi yang terdiri dari mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) Darul Qalam, dan Bina Sarana Informatika (BSI). Forum ini sepakat untuk menampilkan sebuah “reformasi gaya baru” yang bersentuhan dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat secara langsung. Karena itu kemudian dirumuskan sebuah agenda aksi sosial dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang sekiranya dapat dilakukan. Maka, kelompok masyarakat anak jalanan menjadi prioritas utama, mengingat kelompok masyarakat ini tergolong rawan sosial dan masalahnya kompleks sekali.

      IMG00015

Aksi sosial yang dilakukan adalah berupa kepedulian terhadap nasib pendidikan, kesehatan, kesejahteraan anak jalanan/terlantar yang kemudian diujudkan dalam bentuk pendidikan luar sekolah paket A setara SD, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan pembelajaran tersebut awalnya dilaksanakan di Masjid Pasar Kebayoran Lama, tepatnya bulan Juni 1997, dengan warga belajar umumnya anak jalanan dan anak pemulung berjumlah 73 anak. Saat itu proses kegiatan pembelajaran bernaung dibawah sebuah Rumah Singgah sosial.

Namun kegiatan kurang berjalan mulus karena ada kekurang-sepahaman antara kelompok mahasiswa yang mengusung idealisme dengan pihak Rumah Singgah yang berujung pada hengkangnya kelompok mahasiswa dari kegiatan tersebut. Akhirnya kegiatan belajar mengajar menjadi bubar.

Sekelompok mahasiswa tersebut tidak patah arang dan ingin tetap berbagi dengan sesama. Tepatnya awal bulan Juni 1998, pasca reformasi bergulir, dengan tekad yang bulat dan dibarengi oleh kejenuhan berdemonstrasi mereka kembali turun gelanggang melakukan aksi sosial di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan, yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Pembinaan dan Pemberdayaan Anak Jalanan (P3A). Nama ini lebih spesifik dan mencerminkan sebuah wadah pembinaan terhadap anak jalanan.

Awalnya kegiatan ini hanyalah kegiatan kemahasiswa an biasa. Namun dalam perjalanananya, kegiatan tersebut mendapatkan dukungan luas dari berbagai kalangan baik mpemerintah maupun masyarakat. Dari pihak pemerintah, dukungan datang secara langsung dari Dirjen Dikluspora Depdiknas RI, waktu itu, Bapak Prof. Dr. Sudijarto. Bahkan Dharma Wanita Dikluspora dan Depdiknas RI adalah salah satu donatur kegiatan tersebut. Kemudian kegiatan pembelajaran tersebut diresmikan langsung oleh Ibu Soerono (Kasi Dikmenti DKI Jakarta) pada bulan Juni 1998 bertempat di Masjid Al-Awwabin Polsek Pasar Minggu.

Dari kelompok masyarakat, kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari berbagai kelompok pengajian serta perorangan, bahkan ada dari kalangan pengusaha. Seperti Pengajian Jenggala Cipete Selatan, Rumah Singgah RAHMA (yang menyediakan nasi murah/cepek), Pengajian Keluarga Sakinah, dll.

Mengingat kegiatan sosial tersebut haruslah berkesinambungan dan mesti ada pertanggungjawaban secara yuridis, muncul desakan dari kalangan masyarakat agar wadahnya berbadan hukum. Karena itu kelompok mahasiswa tersebut mulai berpikir keras serta melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh nasional untuk mendukung kelangsungan serta keberhasilan proses belajar mengajar tersebut.

Maka, muncullah beberapa nama tokoh nasional seperti Hj. Anniswati M. Kamaluddin (Ketua Presidium Majlis Nasional KAHMI), Dr. Hj. Marwah Daud Ibrahim (anggota DPR RI), Prof. DR. Ir. H. Fachrudin (Mantan Rektor Universitas Hasanuddin Ujung Pandang yang juga anggota DPR RI), H. Houtman Z. Arifin (seorang Bankir dan Mantan Vice President Citibank), Hj. Yufimar Ali, SH (keluarga pengusaha dan anggota Dewan Pakar ICMI ORWIL DKI Jakarta). Di samping mereka terlibat sebagai anggota badan pendiri, sekaligus juga sebagai dewan pembina lembaga, yang kemudian dibakukan dengan akte notaris No. 2, tanggal 3 November 1998 dengan nama Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi, Pusat Pembinaan dan Rumah Belajar Anak Jalanan/Terlantar.

Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi, sebagai Pusat Pembinaan dan Rumah Belajar Anak Jalanan/Terlantar, dalam menjalankan aktivitasnya selalu bersama-sama masyarakat dimana kegiatan tersebut dilangsungkan. Adanya pengakuan masyarakat serta rasa memiliki yang sangat tinggi terhadap lembaga merupakan modal utama keberhasilan kelangsungan program. Menciptakan rasa saling ketergantungan antara masyarakat dengan lembaga, demikian juga sebaliknya adalah merupakan suatu hal yang niscaya.

Untuk itu, diperlukan sinergisitas antara kepentingan lembaga dengan kebutuhan masyarakat. Pihak lembaga harus mengidentifikasi jenis-jenis kebutuhan, potensi yang dimiliki serta menginvintarisasi berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, apa yang diprogramkan oleh lembaga adalah merupakan cerminan dari suatu kebutuhan murni serta harapan segmen-segmen masyarakat tertentu yang akan diberdayakannya.

Untuk itulah, Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi, dengan motto, ”bersama untuk bangsa”, telah melaksanakan berbagai program riil di masyarakat, seperti, Bimbingan Agama dan Etika Bermasyarakat, Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Kerja, Pengembangan Seni Budaya (Minat dan Bakat), Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan, Pengembangan Usaha Mandiri serta Penempatan Kerja.

II. VISI

Meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan sosial masyarakat fakir miskin, terutama anak yatim, anak jalanan/terlantar serta anak kurang mampu menjadi anak bangsa yang konstruktif dan bermartabat sejalan dengan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan masa depan bangsa yang lebih berkualitas.

III. MISI

1. Menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi.
2. Menciptakan peluang kerja baru dengan mengembangkan pelatihan kerja.
3. Menggali serta memberdayakan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia yang mandiri dan produktif.
4. Mengembangkan peran serta masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk turut serta mengentaskan dan memberdayakan fakir miskin, terutama anak yatim, anak jalanan /terlantar, dan anak kurang mampu.

IV. TUJUAN PROGRAM

• Mengembangkan sikap mental positif.
• Membangun Akhlak al-Karimah
• Menggali serta memberdayakan potensi yang dimiliki warga binaan.
• Memberikan gambaran akan kepastian masa depan dengan berbekal berbagai keterampilan kerja dan pengembangan usaha mandiri, serta penempatan kerja.

V. PENGEMBANGAN PROGRAM

Selama tahun 1998 kegiatan pokok lembaga adalah pembelajaran paket A setara SD. Namun sejak tahun 1999, selain dikembangkan ke paket B setara SLTP, juga dibarengi dengan berbagai program keterampilan kerja, seperti perkebunan, perdagangan, serta keterampilan usaha lainnya.

Program kegiatan lebih difokuskan pada pemberdayaan social ekonomi seiring dengan dikukuhkannya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (RUMAH SINGGAH) Pesantren Kota, pada tanggal 12 April 2003 oleh Bapak Dr. H. Fasli Jalal (Dirjen Diklusepa Depdiknas RI, Sekarang Wakil Menteri Kemendiknas RI), berbarengan dengan peresmian gedung Asrama Pesantren Kota Bina Anak Pertiwi.

VI. MODEL DAN BENTUK LAYANAN PENDIDIKAN

a. Model-Model Layanan

Pendidikan layanan khusus anak jalanan dapat dilaksanakan dengan berbagai model, antara lain:

1. Pendidikan Persekolahan, merupakan layanan pendidikan bagi anak daerah terpencil dengan menerapkan kurikulum Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA).

2. Model Guru Kunjung, merupakan layanan akses pendidikan bagi anak daerah terpencil dengan mendatangkan atau mengirimkan guru ke lingkungan komunitas peserta didik.

3. Treatment centre, yaitu layanan pendidikan yang lebih difokuskan pada perubahan sikap mental, perilaku, dan upaya pemulihan lainnya agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dunianya kembali, serta dapat menyelesaikan program wajib belajar 9 tahun, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Republik Indonesia.

4. Boarding house, Adalah tempat tinggal sementara untuk melakukan proses pembelajaran kepada anak jalanan. Boarding House bersifat sementara dan diharapkan dalam jangka waktu tertentu anak akan mengalami proses adaptasi dengan lingkungan sosial yang dibangun dengan memperkenalkan kembali atmosfir dalam keluarga, bahwa dalam hidup ini harus ada hirarki, aturan main, dan lainnya.

5. Life Skill, Pendidikan dan Pelatihan-Pelatihan Keterampilan bermata pencaharian, seperti; Komputer, Sandal Sepatu dan Hotel, Montir Motor, Menjahit, pertanian, dll.

b. Bentuk Layanan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus anak daerah terpencil merupakan pendidikan inklusif yang dilaksakanakan, antara lain:

1. Pendidikan Persekolahan, merupakan layanan pendidikan bagi anak daerah terpencil, penyelenggaraannya berupa:
a. SD/MI Kecil
b. SMP/MTs Kecil Pendidikan Layanan Khusus
c. SMA/MA Kecil atau Terbuka
d. Pendidikan Jarak Jauh

2. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)
a. Pelatihan Budi Daya Hortikultura dan Palawija
b. Pelatihan menjahit dan Bordir
c. Pelatihan komputer
d. Pelatihan Otomotif
e. Pelatihan Rias Kecantikan
f. Pelatihan seni dan budaya
g. Pelatihan Pertukangan
h. Pelatihan budi daya peternakan ikan

3. Pendidikan Keagamaan:
a. Bimbingan Mental dan Akhlak Mulia
b. Taman Pendidikan Agama (TPA)
c. Mengajian Keagamaan untuk Umum
d. Konsultasi Keagamaan

VII. PROGRAM KEGIATAN

Program-program yang dilaksanakan Bina Anak Pertiwi adalah sebagai berikut:

1. Bimbingan Agama dan Etika Bermasyarakat. Program ini dalam rangka membangun sikap mental positif, dan menumbuhkan kembali semangat keberagamaan warga belajar.

Bentuk Kegiatan:Bimbingan ibadah praktis (Wudhu’, Shalat, Puasa, dll.)
• Mengaji Alqur’an,
• Pengajian tentang budi pekerti (akhlak).
• Fiqih (pengajian tentang tata cara bersuci, najis, halal haram, dll.)
• Penyuluhan tata cara hidup bermasyarakat
• Pelatihan Khusus Ramadhan (Pesantren Ramadhan).

2. Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan.
(1) Pendidikan, kegiatan ini diadakan dalam rangka mengembalikan anak didik ke dalam suasana belajar kembali.

Bentuk Kegiatan:

• Pendidikan Persekolahan, merupakan layanan pendidikan bagi anak daerah terpencil, penyelenggaraannya berupa:

a. SD Kecil
b. SMP/MTs Kecil atau Terbuka
c. SMA/MA Kecil atau Terbuka
d. Pendidikan Jarak Jauh

• Menyekolahkan anak kembali ke sekolah umum. Ini diperuntukkan bagi anak yang sudah mengalami perubahan sikap mental, serta memiliki motivasi dan minat belajar yang besar, serta masih memungkinkan diterima di sekolah umum.

(2) Keterampilan Kerja dan Kursus: Jenis keterampilan yang diberikan adalah keterampilan kerja praktis dan tidak memerlukan legalitas formal akademis serta mudah dilakukan. Dan jenis keterampilan tersebut berorientasi kerja atau terbukanya lapangan kerja baru.

Bentuk kegiatan:
Pelatihan:
- Magang kerja (di perkebunan Sukabumi)
- Pelatihan manajemen usaha
- Pelatihan Manajemen produksi
- Pelatihan manajemen quality control
- Pelatihan manajemen pemasaran dan distribusi
- Kelompok usaha produktif.

Kursus-kursus:
- Kursus Setir mobil (dapat SIM)
- Kursus komputer
- Kursus montir motor
- kursus menjahit
- Kursus tata boga
- Kursus Sablon
- Kursus Produksi Sandal dan sepatu
- dll.

3. Pengembangan Minat dan Bakat (seni Budaya). Kegiatan ini difokuskan untuk menggali bakat seni yang ada dalam diri anak didik.

Bentuk Kegitan:

• Group Musik (Band)
• Sanggar tari
• Teater
• Musikalisasi puisi

4. Kesejahteraan dan Pelayanan Kesehatan. Program ini ditekankan untuk meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan kesehatan Warga Binaan dan masyarakat luas.

Bentuk Kegitan:

• Penyuluhan kesehatan (Reproduksi, TBC, HIV, Kesehatan Masyarakat)
• Pemberian makan bergizi
• Pemeriksaan dan Pengobatan kesehatan berkala
• Pelayanan kesehatan serta pembiayan kesehatan (Sertifikat Sehat Dinkes DKI)
• Pelayanan kesehatan anak dan keluarga anak jalanan
• Bantuan kesehatan untuk keluarga miskin (dhuafa)

5. Pengembangan Usaha Mandiri:
Program ini dimaksudkan untuk membuka
lapangan kerja baru.

Bentuk Kegitan:
• Home industry sandal sepatu dan hotel
• Budi daya belimbing manis
• Bengkel (servis) motor
• Warung kelontong
• Koperasi
• Jenis-jenis kerajinan tangan anak asuh

1. Aksi Sosial/kemanusiaan. Kegiatan ini adalah spontanitas dalam rangka meringankan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musiba.

Bentuk kegiatan:

• Pemberian nasi bungkus selama musibah berlangsung
• Penyaluran pakaian layak pakai
• Penyaluran sembako
• Penyaluran peralatan masak (dapur)
• Penyaluran pakaian seragam sekolah

VIII. SASARAN WARGA/MASYARAKAT BINAAN

Warga masyarakat yang menjadi sarasan kami adalah anak-anak putus sekolah, anak jalanan/terlantar, serta anak kurang mampu. Dan anak-anak tersebut sama sekali tidak dibebani biaya apapun, bahkan kebutuhan pembelajaran seperti alat-alat tulis seluruhnya disediakan oleh penyelenggara. Jadi, anak cukup hanya datang dan belajar, bahkan 2 – 3 kali sehari di asrama disediakan makan.

IX. REKRUTMEN WARGA BINAAN

Pola rekrutmen yang kami lakukan adalah dalam bentuk penjangkauan atau kunjungan lapangan, pengamatan, kemudian rekrutmen. Pola yang kami kembangkan pada tahap penjangkauan ini adalah “bermain bersama”. Pekerja sosial atau pun pembina lainnya pro-aktif mengamati kecenderungan, minat, serta hobi anak jalanan/terlantar yang kemudian dikemas dalam bentuk permainan serta pertandingan.
Misalnya, bermain bola, yang kemudian di-follow up dengan pembentukan tim untuk menjaga kelangsungan komunikasi dengan anak jalanan/terlantar.

Pola bermain ini ternyata sangat efektif dalam menjangkau anak jalanan/terlantar. Karena dengan bermain bersama, komunikasi terjalin lebih hangat, dan anak merasa kehadirannya diakui sehingga tercipta sebuah ruang komunikasi yang lebih terbuka, akrab dan egaliter. Keakraban yang terjalin tercermin sebagaimana antar seorang sahabat dengan lainnya sehingga situasinya sangat cair.

Pola rekrutmen seperti ini terbangun secara berantai dan tanpa disadari dilakukan juga oleh anak jalanan/terlantar, yaitu, membawa teman lainnya untuk bergabung bermain bersama. Dan tidak jarang pertandingan dilakukan antara kelompok anak jalanan/terlantar melawan kelompok pembina.

Itulah pola rekrutmen yang kami kembangkan, yaitu, “bermain bersama” dengan menggunakan berbagai media, seperti, bermain sepak bola, bermain game, nongkrong bareng, dan lain-lain, yang kemudian mengajaknya datang ke asrama untuk belajar bersama.

X. POLA PEMBERDAYAAN EKONOMI PRODUKTIF

a. Manajemen

Pelaksanaan program pengembangan usaha produktif dikelola dengan pola central management (manajemen terpusat). Modal barang ataupun tunai dijadikan “modal/dana abadi kelompok” usaha pemandirian warga belajar yang dikelola secara bergulir.

Warga belajar dikelompok-kelompokkan menjadi 5 orang. Dari kelima anak tersebut ditunjuklah seorang koordinator yang merupakan hasil kesepakatan bersama. Lalu dibuatlah sebuah komitmen bersama atau yang disebut akad kerjasama bahwa ia akan menjalankan usaha tersebut dengan sungguh-sungguh, saling jujur serta tidak akan berkhianat satu sama lain. Jika ada salah seorang yang berkhianat atau berlaku curang, maka dengan sendirinya ia akan dikeluarkan dari kelompok usaha produktif dan keanggotaannya dinyatakan gugur. Untuk itu haknya terhadap usaha tersebut dialihkan kepada warga belajar yang lain.

Dalam menjalankan usahanya, kelompok usaha tersebut dibantu oleh suatu “tim manajemen” dari pengurus Rumah Singgah. Koordinator kelompok bertugas mencatat segala jenis pengeluaran serta pendapatan setiap hari yang kemudian disetorkan kepada tim manajemen. Tim manajemen mengatur sirkulasi keuangan dalam kelompok, sedangkan kelompok usaha hanya memegang dalam bentuk barang yang setelah terjual hasilnya diserahkan kepada tim, yang kemudian dibelanjakan kembali bersama kordinator kelompok. Perhitungan rugi/laba dilakukan setiap akhir pekan secara bersama-sama.

Pendekatan ini digunakan sebelum kelompok usaha belum secara mandiri mampu mengelola usahanya. Namun apabila warga belajar dipandang mampu mengelola usahanya secara mandiri, maka secara bertahap akan dilakukan pendelegasian yang pada akhirnya dikelola secara mandiri.

b. Bimbingan motivasi & Pendampingan Usaha

Bimbingan motivasi kami berikan dalam bentuk dukungan moral, sherring, bertukar pengalaman tentang liku-liku hidup seorang wiraswastawan. Bahwa segala sesuatu penuh risiko. Orang yang ingin maju ia harus bersusah-susah dahulu, berjuang dan bekerja keras tanpa kenal lelah, siap jatuh bangun, dan tidak takut gagal. Ia akan terus mencoba dan mencoba sampai ia berhasil. Begitu juga dengan risiko orang berusaha, ia tidak boleh takut rugi, karena dalam rumus orang berusaha hanya ada dua pilihan, kalau tidak untung, ia rugi. Tidak ada istilah impas, karena impas berarti rugi, ia rugi waktu, tenaga serta pikiran. Jadi, harus selalu ditanamkan bagaimana meraih untung besar.

Sedangkan Pendampingan Usaha diberikan dalam bentuk bimbingan manajemen dan pengembangan usaha. Seperti bagaimana melakukan pencatatan, mengatur pengeluaran, serta bagaimana agar usaha tersebut bisa lebih berkembang. Kiat-kiat semacam itu diberikan juga dalam bentuk konsultasi serta bimbingan teknis. Ada juga dikemas dalam bentuk pertemuan sekaligus pengajian bulanan. Pada kesempatan tersebut tim manajemen secara khusus mendatangkan orang yang ahli dibidang pengembangan usaha sekaligus ada siraman rohaninya.

XI. MITRA KERJA

Dalam menjalankan berbagai aktivitas tersebut Bina Anak Pertiwi selalu bersama-sama masyarakat baik perorangan maupun kelompok serta instansi pemerintah dan swasta. Namun untuk per-orangan, tak dapat disebutkan satu persatu.

Kelompok Masyarakat:

• Pengajian Jenggala dan Arisan Kudrumaya
• Rumah Singgah RAHMA
• Pengajian Keluarga Sakinah
• Dharma Wanita Depdiknas RI
• Pengajian Assakinah
• Pengajian Rosyidah
• Pengajian KML Plus
• Rumah Singgah Sruni
• Dll.

Perusahaan Swasta:

• PT. Medco
• PT. Andrawina Praja Sarana
• RCTI Peduli
• BNI 46 Pusat
• PT. Adhi Karya
• Baitulmaal Muamalat
• PT. Truba Jaya Enggineering
• PT. Grahamas Citra Wisata

Instansi Pemerintah:

• Dirt. PSLB Ditjen Mandasmen Kemendiknas RI
• Dirjen PNFI Kemendiknas RI
• Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
• Kemensos RI
• Disnakertrans DKI Jakarta
• BPPD Disnakertrans DKI Jakarta
• Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta
• Sudin Sosial Jakarta Selatan

XII. PENUTUP

Demikianlah gambaran singkat perkembangan program kegiatan Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi, Pusat Pembinaan dan Rumah Belajar anak Jalanan/Terlantar. Wallahua’lam.

  P1060896P1060855 P1060868IMG00876-20121009-1429545699_3827250115463_1104098896_33443899_1821874903_nCIMG2612P06-07-12_15-18

.