“Save Street Child” sebagai ‘Gardu Listrik’ Sejarah Pendidikan

“Save Street Child” sebagai ‘Gardu Listrik’ Sejarah Pendidikan

Date : 19 September 2014 ||Categories : Rumah Singgah || Create by admin

TANGERANG – Kertas, pulpen, pensil, berserakan di atas lantai yang terbuat dari semen. Hanya beralaskan tikar, beberapa wajah tampak serius menekuri kertas di tangan mereka. Kegiatan belajar mengajar itu sesekali diselingi canda tawa.

Setiap orang di dunia mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, tak cuma melalui sekolah. Pemerintah sedianya harus bisa memberikan akses pendidikan kepada rakyat dengan fasilitas memadai, seperti bangunan sekolah, alat-tulis, seragam, guru dan hal-hal yang layaknya dianggap sebagai sekolah formal.

Namun sayang, masih banyak anak-anak kurang mampu yang tidak tersentuh pendidikan. Masih banyak pula anak-anak jalanan yang semestinya belajar, malah berkeliaran untuk mendapatkan sesuap nasi. Peran pemerintah dalam menghadapi persoalan ini pun patut dipertanyakan, selain juga peran orangtua anak-anak jalanan dalam mendidiknya.

Sebuah komunitas anak muda pun membuka mata terhadap permasalahan ini, yakni peduli dengan kondisi anak-anak jalanan. Mereka pun mengajak anak-anak ini menuju gerbang pendidikan melalui pendidikan sekolah nonformal.

Mereka adalah komunitas Save Street Child (SSC). Anggotanya yang terdiri dari anak muda ini dibentuk dari sebuah gerakan di sosial media (sosmed) pada 23 Mei 2011 oleh Shei Latiefah melalui twitter @SaveStreetChild. Saat itu, Shei yang merupakan mahasiswi Universitas Paramadina merasa simpati dengan melihat anak jalanan. Dia pun mengajak anak-anak yang dilihatnya untuk tinggal di kos bersamanya.

Berangkat dari sana, Shei pun mengajak teman-temannya untuk membentuk suatu komunitas dengan memberikan pendidikan bagi para anak jalanan. Pada mulanya, anggota SSC ada tiga orang, termasuk Shei, sang mantan pacar, dan satu teman. Saat ini, SSC berkembang dengan banyak anggota yang terdiri dari kru dan pengajar sekira 50 orang.

Kelas yang disiapkan dalam mengajar para anak jalanan ini terdapat di enam titik yakni di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bogor, yaitu berlokasi di kelas Kampung Manggah Depok. Kelas untuk mengajar pun tersebar di beberapa tempat, seperti di rumah penduduk Kampung Beringin Depok, Stasiun Pondok Ranji Tangerang Selatan, Kelapa Dua Jakarta Barat, dekat Stasiun Cikini Jakarta Pusat, serta di Terminal Baranangsiang Bogor.

Komunitas SSC yang mempunyai murid sekitar 80 anak itu mempunyai cerita tersendiri. Anggota dari komunitas SSC memang kebanyakan adalah anak jalanan. Latar belakang mereka berbeda-beda mulai dari pengamen sampai pengemis walaupun rata-rata masih mempunyai orangtua, ada juga yang melarikan diri dari rumah karena bermasalah di rumahnya. Karena belajar di salah satu rumah penduduk, pemilik rumah rela pondoknya dibuat kelas belajar. Sang pemilik kebetulan mempunyai anak yang juga ikut belajar di komunitas SSC.

“Untuk kelas Pondok Ranji ada sekira 11 orang, tapi yang aktif biasanya hanya delapan orang dan range umurnya dari sembilan hingga 18 tahun. Tiap kelas range umurnya beda-beda, kalau di Pondok Ranji kebanyakan sudah agak dewasa. Kalau di kelas Cikini sekira tujuh hingga 10 tahun,” ucap cowok kelahiran 27 Desember 1991 itu, saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Semenjak itu, gerakan ini semakin berkembang sudah tersebar di 18 kota di seluruh Indonesia, yaitu Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Medan, Makassar, Manado, Palembang, Padang, Madura, Jember, Blitar, Pasuruan, Malang, Semarang, Solo, Mojokerto, dan Batam.

“Gerakan ini independen, dengan pusat komunitas SSC di bilangan Depok. Untuk di kota lainnya yang tersebar, bergerak bersama-sama dan tetap berjejaring dengan kota lainnya,” sahut Tim Pendidikan sekaligus Pengajar SSC Bram Kusuma Hartato saat berbincang dengam Okezone, di Stasiun Pondok Ranji, Bintaro, Tangerang Selatan.

Disampaikan Bram, pengajar untuk kelas Pondok Ranji ada sekitar tujuh orang dan yang aktif mengajar hanya lima orang. Pemilihan stasiun sebagai tempat belajar pun bukan tanpa alasan, yakni karena dekat dan familiar untuk mereka. Untuk setiap kelas mempunyai jadwal yang berbeda. Misalnya aktivitas di kelas Pondok Ranji diadakan setiap Minggu pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, di kelas Bogor pukul 11.00 hingga 13.00 WIB, dan di kelas Cikini setiap Sabtu pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.

“Untuk semua kelas rata-rata diadakan belajar mengajar tiap seminggu sekali, tapi yang di basecamp kita di Depok seminggu tiga kali belajar-mengajarnya. Dulu sebelum di stasiun kereta lebih ketat peraturannya, banyak sekali anak-anak marjinal atau anak-anak jalanan berkeliaran di stasiun kereta. Setelah mereka mencari uang, kita mencoba untuk mengajak mereka belajar dan tempat yang terdekat dan tidak bayar, ya di stasiun. Kita hanya permisi dengan penjaga-penjaga stasiun kereta dan mereka juga sudah tahu kegiatan kita,” bebernya.

Sistem belajarnya pun dilakukan secara akademik, yaitu pengetahuan Matematika dasar, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Inggris dasar, Pendidikan Agama, dan keterampilan.

“Karena anak-anak jalanan ini didominasi oleh pengamen, para pengajar SSC mengakomodir mereka untuk latihan musik, ada juga kakak-kakak di sini yang bisa mengajarkan kerajinan, tapi lebih banyak keterampilan musik,” katanya.

Alasan mendirikan SSC, lanjut Bram, karena mereka ingin berbuat sesuatu untuk negara. Mereka sadar, anak-anak jalanan tidak terjangkau oleh pemerintah. Bagi mereka, dengan jalan ini diharap bisa membuka mata masyarakat luas. Dirinya tak menampik dalam menghadapi anak-anak jalanan ini, masih banyak murid yang susah diatur. Bram dan timnya dalam proses belajar-mengajarnya mempunyai komitmen khusus dengan mereka.

“Karena mereka berbeda dengan anak-anak yang di sekolah pada umumnya. Mereka punya karakteristik sendiri, lebih susah diatur tapi kalau kita sudah bisa masuk ke dunianya, mereka sangat bersahabat sekali terhadap kita. Dalam artian, kita sudah bisa jadi sahabat mereka, mendengarkan ceritanya dan mereka sangat senang kalau kita ada yang mendampinginya. Kita berusaha untuk menjadi teman sekaligus sahabat mereka,” katanya.

Jerih payah anggota komunitas SSC tak sia-sia. Mereka dari yang tidak bisa membaca, lambat laun bisa membaca. Tak bisa berhitung, pelan-pelan menjadi bisa. “Biarpun bagi kita itu hal sederhana, tapi bagi mereka itu sangat membantu,” ucapnya singkat.

Tak hanya belajar-mengajar, kegiatan SSC ini juga mengadakan edutrip setiap tiga bulan sekali. Kegiatan ini menyatukan semua kelas untuk liburan, seperti belajar di luar kelas bersama, bermain bersama di Bogor, sampai museum Kota Tua. Tujuannya, agar mereka lebih akrab satu sama lain dengan berkompetisi melalui perlombaan.

Belajar di belakang gardu listrik stasiun kerap menjadi tontanan bagi masyarakat sekitar. Tanggapan masyarakat di setiap wilayah berbeda-beda, ada yang mendukung, tidak pernah diganggu preman, sampai tidak ada petugas yang mengusir. Pihak SSC bebas menerima siapa pun anak-anak jalanan untuk datang.

“Mereka mau datang silakan, kami tidak pernah memaksa. Untuk anak-anak yang datang dan mengajukan diri sendiri untuk bergabung di SSC yang ingin belajar, anak-anak tersebut tetap ditanya mengenai identitasnya, soal biodatanya, asal-usulnya dari mana, biar kita bisa tahu juga nanti perkembangannya dia,” katanya. (ade)

Sumber: Okezone.com

.

Comments

Leave a Reply


Batas Karakter

Other posts from Rumah Singgah